BERITA SEPUTAR PEMALANG

Monday, December 21, 2020

Ketapang Berebut Pulung, Siapa Untung? (9)

Calon nomer 1 usai acara pengundian nomer urut 

SeputarPemalang.Com - Setelah perang kata-kata dan perang gambar, perang spiritual pun diyakini mewarnai Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang akan digelar pada Minggu (27/12/2020) nanti.

Perang spiritual

Ya, keberadaan tokoh spiritual atau supranatural, apakah dukun atau kiai, seakan tak dapat dielakkan dalam setiap perhelatan pilkades, khususnya Pilkades Desa Ketapang.

Dukun merujuk pada sosok tokoh spiritual Kejawen atau yang cara berdoanya menggunakan ritual leluhur orang Jawa, atau tidak murni secara Islami, atau bahkan sama sekali tidak Islami. Misalnya dengan sarana dupa atau kemenyan, sesajen, keris, "gaman" (dari kata ageman), batu bertuah, atau benda keramat lainnya.

Sedangkan kiai merujuk pada sosok tokoh spiritual yang cara berdoanya menggunakan ritual Islami. Ia bisa seorang ustaz atau ulama dan sebagainya.

Dalam pilkades, biasanya ada calon kepala desa (cakades) yang menggunakan jasa dukun, ada pula yang menggunakan jasa kiai, atau bahkan penggabungan dari keduanya, dukun sekaligus kiai, untuk mem-"back up" pencalonannya.

Lalu, terjadilah perang spiritual antar-cakades itu, terutama pada malam H pencoblosan atau pemungutan suara. Maka pada malam itu muncullah suasana mistis dan magis. Banyak orang kemudian "lek-lekan" atau tirakatan demi menyaksikan turunnya pulung.

Dalam dua pilkades terakhir di Desa Ketapang, penulis mencium gelagat adanya perang spiritual itu. Dalam Pilkades Desa Ketapang tahun 2003, misalnya, terjadi perang spiritual antara blok Barat (tokoh spiritual dari Banten) dan blok Timur (tokoh spiritual dari Magetan).

Entah dalam pilkades kali ini, apakah akan terjadi perang spiritual antar-cakades atau tidak.

"Perang spiritual itu untuk memperebutkan pulung. Siapa yang tarikannya lebih kuat, dialah yang akan mendapatkan pulung itu," ungkap tokoh spiritual Kejawen asal Dukuh Karangsari, Desa Ketapang, Mbah Darham semasa hidupnya kepada penulis puluhan tahun lalu.

Tokoh Kejawen yang akrab disapa Mbah Monying, eyang dari Rehan Rihanto, ini berpendapat, keberadaan tokoh spiritual atau supranatural itu sifatnya hanya membantu, karena biasanya dianggap lebih dekat dengan Yang Maha Kuasa sehingga doanya akan lebih makbul.

"Tapi yang lebih utama adalah ikhtiar atau usaha dari diri calon sendiri, baik ikhtiar lahir maupun ikhtiar batin. Nah, ikhtiar batin itu antara lain dengan 'nyambat' atau minta tolong tokoh spiritual tadi," ungkap Mbah Monying yang sesungguhnya ia lontarkan dalam bahasa Jawa ngoko.

Bagi para calon, kata Mbah Monying, yang terpenting adalah bagaimana mengambil hati calon pemilih, sehingga akan merasa simpati, bahkan "melas" (sayang) atau kasihan, dan akhirnya memilih calon tersebut.

"Yang terpenting adalah merebut hati calon pemilih. Caranya bermacam-macam. Ada tata lahir dan ada tata batin. Tata lahir antara lain berpenampilan sederhana dan rapi, bersikap santun dan bertutur kata lembut, sehingga masyarakat akan bersimpati kepadanya," jelasnya.

Apakah pembagian sembako, bahkan "serangan fajar" kepada calon pemilih akan berpengaruh terhadap kenaikan elektabilitas atau tingkat keterpilihan calon?

"Itu salah satu tata lahir. Jelas berpengaruh. Tapi dari sisi tata batin, belum tentu. Calon pemilih yang sudah terlanjur jatuh hati pada calon tertentu, diberi apa pun, baik kemudian ditolak atau pun diterima, akan tetap memilih calon yang sudah terlanjur disukainya itu. Ambil uangnya, tidak pilih orangnya. Jadi, pembagian sembako dan 'serangan fajar' bukan jaminan," paparnya.

Di situlah, lanjut Mbah Monying, pentingnya peran tokoh spiritual atau supranatural, ialah membantu cakades berikhtiar secara batin, atau tata batin. Yakni secara supranatural mengambil hati para calon pemilih agar "melas" kepada calon yang menggunakan jasa spiritualnya itu.

"Ingat, Yang Maha Kuasa-lah yang mampu membolak-balikkan hati manusia," terang Mbah Monying yang menjelang akhir hayatnya rajin menunaikan ibadah salat, yang kemudian penulis asosiasikan dengan ayat di dalam kitab suci Al Qur'an, "ya muqolib balqulubi".

"Manusia hanya bisa berencana, berdoa dan berusaha, tapi Tuhan-lah yang menentukan segalanya," tandas Mbah Monying memberi saran agar setiap cakades "narimo ing pandum", legawa atau ikhlas menerima apa pun keputusan Allah SWT.

"Vox populi vox Dei", suara rakyat adalah suara Tuhan. Siapa yang nanti dipilih rakyat, dialah merupakan pilihan Tuhan.

Kini, dari keempat cakades yang siap berlaga, yakni Suminto alias Minto (1), Tardiyan alias Tardi alias Sinangjono Prio Hutomo (2), Sutopo alias Utopo alias Saut Ld (3) dan Sudiharto  alias Yanto alias Bangkok (4), adakah yang menggunakan jasa tokoh spiritual untuk mem-"back up" pencalonan masing-masing? Atau bahkan semuanya menggunakan jasa tokoh spiritual, atau tidak menggunakan sama sekali?

Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, baik menggunakan atau pun tidak menggunakan jasa tokoh spiritual, mereka harus tetap mempersiapkan diri sebaik-baiknya, baik tata lahir maupun tata batin.

Tata batin, mereka bisa memanjatkan doa langsung kepada Allah SWT, kebetulan keempatnya Muslim semua, tanpa harus melalui perantara tokoh spiritual. Perang spiritual salah-salah bisa menjurus ke arah kemusyrikan, dosa yang tak terampuni Allah SWT.

Apalagi, kata sahabat karibku Miftah Kuncoro, bila yang diperebutkan adalah pulung, maka pulung itu kini telah menjelma menjadi "uang sekopor". 

Jadi, uanglah yang menurut dia lebih berperan dalam keterpilihan cakades. Apalagi sekarang masyarakat cenderung apatis dan pragmatis serta menggunakan "aji mumpung". Maka,  pulung pun diyakini bisa "dibeli" dengan uang sekopor tadi. Dan itu juga dosa!

Benarkah? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

Jakarta, 21 Desember 2020.

Karyudi Sutajah Putra, wartawan, penyair, konsultan.



0 Post a Comment