BERITA SEPUTAR PEMALANG

Monday, December 21, 2020

Ketapang Berebut Pulung, Siapa Untung? (8)

Pendukung salah satu calon Pilkades Ketapang

SeputarPemalang.Com -  Perang gambar dimulai, setelah perang kata-kata terjadi melalui penyampaian visi dan misi, Jumat (18/12/2020).

Kini, seluruh pelosok wilayah Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, dipenuhi gambar-gambar foto 4 calon kepala desa yang akan berlaga dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Ketapang Tahun 2020, Minggu (27/12/2020) nanti.

Gambar-gambar foto cakades itu terpasang dan berdiri di jalan-jalan dan gang-gang sempit dalam bentuk baliho. Pun tertempel di dinding-dinding rumah penduduk di seluruh wilayah desa, baik Ketapang induk (wetanan, tengahan dan kulonan), dukuh Tegalan, dukuh Karangsari (Kongsi) maupun Enthak-enthak.

Gambar-gambar foto 4 cakades, yakni Suminto alias Minto dengan nomor urut 1, Tardiyan alias Tardi alias Sinangjono Prio Hutomo (2), Sutopo alias Utopo alias Saut Ld (3) dan Sudiharto  alias Yanto alias Bangkok (4) saling beradu pandang dan berebut simpati warga supaya memilih diri masing-masing.

"Rai Mancleng", Mitos atau Fakta?

Lantas, siapa di antara ke-4 kandidat itu yang memiliki "rai mancleng"?

"Rai" dalam bahasa Indonesia adalah wajah atau muka. Sedangkan "mancleng" sulit dicari padanannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Mungkin yang dimaksud "mancleng" adalah semringah dan teduh serta berseri-seri. "Mancleng" tidak identik dengan tampan, ganteng, rupawan, atau cantik dan ayu.

Bisa saja wajah seseorang biasa-biasa saja atau bahkan kurang rupawan, tapi terlihat "mancleng". Sebaliknya, bisa saja wajah seseorang secara kasat mata tanpak tampan atau cantik, tapi terlihat tidak "mancleng".

Entahlah. Yang jelas, konon, cakades yang akan mendapat pulung dan beruntung terpilih adalah yang "raine mancleng". Terlihat "mancleng" karena diyakini ada aura lain yang masuk ke dalam diri orang tersebut. Konon yang menyebabkan "rai mancleng" itu karena seseorang sudah ketiban pulung.

Pertanyaannya, "rai mancleng" itu sekadar mitos atau memang fakta?

Mungkin saat ini masyarakat, terutama tim sukses atau "pecut" dan para pendukung cakades sedang mematut-matut foto jagoan masing-masing untuk dibandingkan dengan jagoan lawan: siapa yang "raine" paling "mancleng"?

Bila masih kurang yakin, mereka akan kembali membandingkan "rai" jagoannya dengan "rai" jagoan lawannya pada saat pencoblosan atau pemungutan suara di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Saat itu keempat kandidat duduk berjejer sesuai nomor urut di atas panggung yang sudah disediakan.

Bagi para pendukung, apalagi "pecut", bagaimana pun kondisi "rai" jagoannya, apakah "mancleng" atau tidak, mereka tak akan terpengaruh. Mereka akan tetap memilih yang bersangkutan. Tapi bagi massa mengambang atau "floating mass" atau yang masih ragu dan bimbang, mereka bisa jadi akan memilih calon yang "raine mancleng" daripada yang tidak.

Sekali lagi, mitos atau fakta, "rai mancleng" itu? Bisa mitos bisa fakta.

Disebut mitos, karena kita tidak tahu parameter atau ukuran "rai mancleng" itu seperti apa. Adanya hanya bisa dirasakan dengan insting. Relatif. Nisbi. Subyektif.

Kita juga tidak tahu apa tandanya bila seseorang sudah ketiban pulung sehingga "raine mancleng". Misterius.

Sebaliknya, disebut fakta bila ternyata 'rai mancleng" yang dimaksud adalah wajah semringah dan berseri-seri sebagai cerminan sikap optimistis dan percaya diri.

Sikap optmistis tersebut muncul karena kandidat bersangkutan telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya sejak mulai pendaftaran, bahkan mungkin jauh sebelumnya, hingga duduk sebagai "pengantin" saat pemungutan suara. Dengan persiapan yang sudah matang itulah, wajar bila kandidat yang "raine mancleng" itu menang atau terplih menjadi kepala desa.

Itu yang pertama. Kedua, jika ternyata "rai mancleng" itu dimaknai sebagai pancaran aura ketampanan atau kecantikan, wajar pula jika kandidat bersangkutan terpilih. Jika tak ada keunggulan komparatif atau perbandingan faktor lain, masyarakat akan cenderung memilih sosok yang rupawan daripada sebaliknya.

Fenomena ini terjadi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2004 dan 2009. Pada Pilpres 2004, Susilo Bambang Yudhoyono yang berparas rupawan dan berpenampilan santun, berpasangan dengan Jusuf Kalla, mampu merebut hati pemilih, terutama ibu-ibu, sehingga berhasil mengalahkan "incumbent" atau petahana Presiden Megawati Soekarnoputri yang berpasangan dengan KH Hasyim Muzadi. Sontak, SBY yang ganteng dan santun itu menjadi idola kaum ibu.

Fenomena yang sama berlanjut ke Pilpres 2009 ketika SBY selaku petahana berhasil menumbangkan JK, penantangnya yang berpasangan dengan Wiranto, maupun Megawati yang berpasangan dengan Prabowo Subianto. SBY yang berpasangan dengan Boediono tetap menjadi idola ibu-ibu yang merupakan jumlah pemilih terbesar.

Hal tersebut didukung oleh "tagline" kampanye SBY, yakni "Lanjutkan". Kekalahan JK juga dipengaruhi "tagline" kampanyenya, yakni "Lebih cepat lebih baik".

Fenomena tersebut kemudian menimbulkan anekdot: ibu-ibu lebih suka "lanjutkan", dan tidak suka "lebih cepat lebih baik". Mohon maaf, dalam hubungan suami-istri, rata-rata ibu-ibu mendambakan durasi yang lebih lama.

Fenomena yang sama juga terjadi pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, terutama di Jawa Tengah. Denty Eka Widi Pratiwi terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) 2019-2024, mengalahkan sosok-sosok lain yang menyandang nama besar. Ini terjadi karena fotonya di surat suara terlihat cantik rupawan.

Dalam sebuah penelitiannya, Alexander Todorov, seorang psikolog dari Universitas Princeton, Amerika Serikat (AS), menyimpulkan, penampilan fisik memiliki pengaruh cukup signifikan dalam sebuah pemilihan umum. Ini disebabkan karena masyarakat cenderung menyimpulkan karakter atau sifat orang berdasarkan "first impression" atau kesan pertama dari penampilan fisik, meskipun tidak pernah melakukan perbincangan sebelumnya.

"First impression" memegang peranan penting, yakni 60%, dalam memengaruhi pikiran orang lain.

Di antara 4 kandidat yang gambar fotonya sudah terpampang di seantero Ketapang, siapakah menurut Anda yang "raine" paling "mancleng"?

Kalau kurang yakin, lihatlah nanti saat keempatnya duduk di kursi "pelaminan", ketika malam hari sebelumnya atau dini hari itu sudah ada yang ketiban pulung.

Jakarta, 20 Desember 2020.

Karyudi Sutajah Putra, wartawan, penyair, konsultan.

0 Post a Comment