BERITA SEPUTAR PEMALANG

Friday, December 4, 2020

Ketapang Berebut Pulung, Siapa Untung? (3)

Bangkok dan Utopo, dua calon dari empat calon kepala desa Ketapang - Facebook

SeputarPemalang.Com - Ketapang memamg sarat mitos, di samping legenda dan cerita mistis. Sebab itu, sambil menunggu masuknya data tentamg weton atau hari lahir para calon kepala desa (cakades) dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang akan digelar pada hari Minggu 27 Desember 2020, tampaknya akan lebih menarik untuk mengulas terlebih dahulu mitos-mitos yang meliputi pilkades di Desa Ketapang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, "Mitos" adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan cerita tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Dikutip dari Wikipedia, "Mitos" (bahasa Yunani: mythos) atau mite (bahasa Belanda: mythe) adalah bagian dari suatu folklor yang berupa kisah berlatar masa lampau, mengandung penafsiran tentang alam semesta (seperti penciptaan dunia dan keberadaan makhluk di dalamnya), serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita atau penganutnya.

Dalam pengertian yang lebih luas, mitos dapat mengacu kepada cerita tradisional. Pada umumnya mitos menceritakan terjadinya alam semesta dan bentuk topografi, keadaan dunia dan para makhluk penghuninya, deskripsi tentang para makhluk mitologis, dan sebagainya.

Mitos dapat timbul sebagai catatan peristiwa sejarah yang terlalu dilebih-lebihkan, sebagai alegori atau personifikasi bagi fenomena alam, atau sebagai suatu penjelasan tentang ritual.

Hal itu disebarkan untuk menyampaikan pengalaman religius atau ideal, untuk membentuk model sifat-sifat tertentu, dan sebagai bahan ajaran dalam suatu komunitas.

Mitos Rumah Menghadap Ke Utara

Mitos-mitos di Ketapang antara lain bahwa cakades yang akan terpilih dan beruntung adalah yang rumahnya menghadap ke arah utara.

Mengapa? Secara harfiah dapat dijelaskan, arah utara adalah laut, dalam hal ini Laut Jawa. Rumah menghadap ke arah laut artinya penghuninya harus berhati seluas samudera. Tidak mudah marah. Tidak mudah tersinggung. Selalu mengayomi dan "ngemong". Tulus ikhlas menerima apa pun yang terjadi.

Laut, meskipun permukaannya kadang terluhat bergejolak atau bergelombang karena pengaruh tiupan angin dan gravitasi bulan, tetapi di dalam atau di dasarnya tetaplah tenang.

Laut juga bisa menerima apa saja tanpa membuatnya keruh. Sampah, pasir, lumpur dan apa pun yang datang dari muara selalu ditampung laut dengan baik. Air laut selalu jernih atau bening, tak pernah keruh. Kalaupun ada yang keruh, itu hanya sedikit di tepinya saja.

Begitulah hendaknya seorang pemimpin. Menghadapi persoalan apa pun hatinya harus selalu sabar, pikirannya selalu jernih.

Sebaliknya rumah menghadap ke selatan yang berarti menghadap ke arah gunung. Gunung diasumsikan sebagai keangkuhan, kesombongan, dan sewaktu-waktu bisa meluapkan amarah melalui erupsinya. Karakter seorang pemimpin tidak boleh seperti gunung.

Sejak era Kepala Desa Wahmadi (alm) hingga kini, orang yang terpilih sebagai Kepala Desa Ketapang entah kebetulan atau tidak rumahnya selalu memghadap ke utara.

Pengganti Wahmadi adalah Subiyanto, rumahnya menghadap ke utara. Saat kodra atau pilkades, Subiyanto bersaing dengan Haji Bejo Susilo yang rumahmya menghadap ke selatan. Subiyanto keluar sebagai pemenang.

Pengganti Subiyanto adalah Surah yang rumahnya juga menghadap ke utara. Dalam pilkades, Surah bersaing dengan Sunarto dan Utoyo yang rumahnya menghadap ke selatan.

Pengganti Surah adalah Kurnadi yang rumahnya menghadap ke utara. Dalam pilkades, Kurnadi bersaing dengan Kardiman yang rumahnya juga menghadap ke utara. Ironisnya, hasil pilkades bukannya seri atau draw, melainkan dimenangkan Kurnadi.

Di sinilah terjadi anomali. Sebab itu, cakades yang rumahnya menghadap ke utara akan terpilih dianggap sebagai mitos belaka. Tapi tidak mitos-mitos amat. Sebab faktanya, yang terpilih sebagai kades saat itu adalah Kurnadi yang rumahnya menghadap ke utara. Tak mungkin dua-duanya akan sama-sama terpilih menjadi kepala desa. Dalam pertandingan, selalu ada yang kalah dan ada yang menang.

Pengganti Kurnadi adalah Kuswadi yang rumahnya menghadap ke utara.

Dalam pilkades saat itu, Kuswadi bersaing dengan tiga cakades lainnya, yakni Sudiharto alias Bangkok, Kuswiyah yang merupakan satu-satunya cakades perempuan, dan Wirnoto.

Untuk menyiasati mitos, Bangkok yang masih tinggal di rumah orangtuanya, Tayamu, dan orangtuanya itu rumahnya menghadap ke selatan, berpindah tempat sementara ke rumah kakeknya, Darpangi yang menghadap ke utara. Adapun rumah Kuswiyah menghadap ke arah timur. Sedangkan Wirnoto yang juga masih tinggal di rumah orangtuanya, Kanadi, rumah orangtuanya itu juga menghadap ke utara.

Akan tetapi Kuswadi lah yang keluar sebagai pemenang. Lagi-lagi soal rumah menghadap ke utara ini sekadar mitos. Lagi-lagi pula, dalam sebuah pertandingan ada yang kalah dan ada yang menang. Tak mungkin Bangkok, Kuswadi dan Wirnoto menang semua. 

Pemenang sesungguhnya adalah masyarakat Desa Ketapang yang sudah dewasa dalam berdemokrasi, lancar dalam mengikuti pilkades, dan ikhlas menerima siapa pun yang terpilih. Tak ada konflik. Tak ada dendam. Tak ada ontran-ontran seperti yang terjadi di desa sebelah.

Patahkan Mitos?

Pilkades Desa Ketapang Tahun2020 ini akan diikuti oleh empat cakades. Mereka adalah Sudiharto alias Bangkok, Suminto alias Minto, Sutopo alias Utopo, dan Tardiyan alias Tardi.

Bangkok yang pada pilkades sebelumnya juga menjadi cakades, rumahnya menghadap ke selatan. Seperti pada pilkades periode lalu, mungkin ia akan kembali menyiasati mitos tersebut dengan pindah tempat sementara ke rumah kakeknya, Darpangi yang menghadap ke utara.

Minto rumahnya menghadap ke selatan, begitu pun Utopo. Satu-satunya cakades yang rumahnya menghadap ke utara adalah Tardi.

Saat ini, berdasarkan survei lapangan, cakades terkuat adalah Utopo, disusul Minto. Tapi jangan lupa, Tardi juga bisa menjadi kuda hitam yang bisa menyalib di tikungan. Begitu pun Bangkok. Manusia boleh berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan.

Akankah Utopo atau Minto mampu mematahkan mitos tersebut? Atau keduanya harus menyerah menghadapi kuda hitam? Biarlah waktu yang menjawab.

Mitos Gamelan

Mitos kedua adalah gamelan. Konon, Balai Desa Ketapang dihuni oleh makhluk gaib yang secara berkala "nanggap" pertunjukan wayang kulit. Salah satu perangkat dalam pertunjukan wayang kulit adalah gamelan. Salah satu alat musik gamelan adalah gong.

Nah, warga masyarakat yang tinggal di sekitar balai desa kadang-kadang mendengar suara gong, yang sumbernya seakan dari balai desa. Tapi ketika dibuktikan ke balai desa, ternyata di sana tak ada gong, apalagi ada orang menabuh gong.

Konsekuensi spiritualnya, di balai desa tidak boleh ada pertunjukan wayang kulit, wayang golek dan sejenisnya karena akan menyaingi makhluk gaib itu. Bila pantangan tersebut dilanggar, maka akan ada konsekuensi atau risikonya.

Entah percaya atau tidak, jatuh sakitnya Kepala Desa Kuswadi beserta istrinya tak lama setelah pelantikan, tak luput coba dihubung-hubungkan dengan mitos tersebut. Yakni, karena yang bersangkutan menggelar pertunjukan wayang kulit di balai desa saat perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Ternyata mitos itu gagal dipatahkan.

Tentu saja semua itu hanya mitos belaka. Sebab, sakit atau sehat, semua Allah-lah yang berkehendak. Manusia hanya berusaha, Tuhanlah yang menentukan. Kini kita semua mendoakan agar Pak Kus dan istri segera sehat kembali seperti sedia kala. Amin.

Mitos Dua Mantan Kepala Desa

Mitos berikutnya adalah di Ketapang tidak boleh ada mantan kepala desa lebih dari satu orang. Bila tidak, maka akan ada konsekuensi spirutualnya. Sebab itu, kemarin sempat terdengar kabar bahwa mantan kades Kurnadi hendak mencalonkan diri kembali. Bukan untuk meraih jabatan kepala desa, melainkan sekadar menghilangkan status mantan kepala desa. Bila dia nyalon lagi maka statusnya adalah mantan cakades, bukan mantan kades.

Benarkah mitos-mitos itu? Wallahua'lam bishowab.

Namun, secara akal sehat bisa dijelaskan mengapa mitos itu terkadang menjelma menjadi fakta. Karena percaya mitos, maka kepercayaan itu kemudian tertanam di dalam hati dan menjadi sugesti.

Ketika sugesti semakin kuat, keyakinan di dalam hati pun bertambah kuat. Akhirnya apa yang diyakini dalam hati atau diucapkan dengan kata-kata menjelma menjadi kenyataan. Suara hati atau ucapan adalah doa.

Allah Swt berfirman, "Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Q.S. Qaf: 18).

"Sesungguhnya Allah berfirman: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” (H.R. Muslim 4832, 4851; Tirmidzi 3527, Ahmad 7115).


Penulis  : Karyudi Sutajah Putra  

0 Post a Comment