BERITA SEPUTAR PEMALANG

Wednesday, December 2, 2020

Ketapang Berebut Pulung, Siapa Untung? (2)

Balai desa Ketapang - Google Maps

SeputarPemalang.Com
- Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah akan digelar pada Minggu, 27 Desember 2020. Pilkades kali ini digelar serentak se-Kabupaten Pemalang.

Pilkades dalam bahasa lokal disebut "kodra". Kepala desa dalam bahasa lokal disebut "lurah", meskipun sebutan lurah ini sesungguhnya salah kaprah, karena Ketapang adalah desa, bukan kelurahan.

Tapi baiklah. Apalah arti sebuah nama. "What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet," kata William Shakespeare (26 April 1564-23 April 1616), pujangga terbesar Inggris, yang artinya kurang lebih, “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kita memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”

Pilkades atau kodra, kepala desa atau lurah, substansinya sama saja. Kita bicara substansi atau isi, bukan bungkus atau kemasan.

Pilkades Desa Ketapang 2020 akan diikuti oleh 4 (empat) calon kepala desa (cakades), berdasarkan jumlah cakades yang sudah mengembalikan formulir pendaftaran beserta segenap persyaratannya.

Keempatnya adalah, berdasarkan abjad, Sudiharto alias Bangkok, Suminto alias Minto, Sutopo alias Utopo, dan Tardiyan alias Tardi.

Dilihat dari rumah atau tempat tinggal masing-masing, Bangkok ada di kulon kali (sebelah barat sungai), Minto ada di wetan kali (sebelah timur sungai), dan Utopo ada di kulon kali.

Jika dilihat dari tempat kelahirannya, Utopo ada di wetan kali, tepatnya di depan samping kiri Masjid Al Ikhlas.

Kali dimaksud adalah sungai yang membujur dari selatan ke utara, membelah wilayah wetanan dan kulonan wilayah induk Desa Ketapang. Letak sungai tersebut bersisian dengan jalan di depan balai desa dan di belakang Masjid Al Ikhlas.

Adapun Tardi tinggalnya tidak di wetan kali atau kulon kali, tetapi di wilayah perdukuhan tersendiri yang terpisah hamparan tambak atau empang dan sawah dengan wilayah induk Desa Ketapang. Yakni Dukuh Karangsari atau lebih familiar disebut Kongsi, karena di sana ada dua "kongsi" atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Di dukuh inilah penulis lahir dan tumbuh hingga remaja dan pemuda.

Tapi jika dilihat dari keberadaan Kali Banger yang membelah wilayah Desa Ketapang dari selatan ke utara hingga Laut Jawa, posisi rumah Tardi ada di wetan kali.

Sepanjang sejarah Desa Ketapang, belum pernah ada kepala desa yang tinggal atau berasal dari Kongsi.

Memang pernah ada seseorang yang mencalonkan diri menjadi kepala desa yang berasal dari Kongsi, yakni Kuswiyah, dan dialah satu-satunya perempuan yang pernah menjadi cakades. Namun ia belum beruntung karena kekurangan suara.

Bila Tardi berhasil terpilih menjadi kepala desa, maka ia akan mencetak sejarah baru. Makanya dia optimistis dengan jargon "orang Kongsi pilih orang Kongsi", meskipun bila semua pemilik hak pilih dari Kongsi memilih dia, suaranya tetap tidak mencukupi untuk melawan semua pemilih yang berasal dari wilayah induk desa. Kecuali suara pemilih wilayah induk desa terpecah rata ke tiga cakades, maka jika suara dari Kongsi bulat, ditambah sebagian suara dari wilayah induk yang notabene saudara-saudaranya sendiri, bisa saja Tardi menjadi kuda hitam yang beruntung.

Lalu, di antara ketiga cakades yang berasal dari wilayah induk desa, siapakah yang akan unggul suara?

Kuswadi, Kepala Desa yang sudah purnatugas dan digantikan oleh Pejabat Sementara (Pjs), tinggal di wetan kali. Maka banyak warga yang memprediksi dan juga berharap, termasuk Akrom, cakades yang akan terpilih untuk periode berikutnya nanti adalah yang tinggal di kulon kali, supaya bergantian.

Sebelum Kuswadi, Kepala Desa Ketapang adalah Kurnadi yang asal-usulnya dari kulon kali meskipun secara "de facto" tinggal di wetan kali, tepatnya di pinggir Kali Banger.

Ada dua cakades yang tinggal di wilayah kulon kali, yakni Utopo dan Bangkok. Siapa yang akan unggul dan beruntung? Kita simpan dulu jawaban atas pertanyaan ini untuk edisi berikutnya.

Namun, bisa jadi pulung atau wahyu keprabon itu akan jatuh di wilayah wetan kali. Sebab, saat Kades Subiyanto digantikan oleh Kades Surah, keduanya kini sudah almarhum, keduanya sama-sama tinggal di wetan kali. Minto adalah satu-satunya cakades yang tinggal di wetan kali. Kebetulan Minto juga adik almarhum Surah. Peluang Minto secara gaib tak bisa dinafikan.

Namun jika dilihat dari tempat lahir dan tempat tinggalnya, baik pulung itu nanti akan jatuh di wetan kali atau kulon kali, Utopo tetap punya peluang besar.

Lalu, bagaimana dengan weton atau hari lahir para cakades, siapa yang akan beruntung terkait dengan wetonnya?

Dari kacamata Islam, semua hari itu baik. Tidak ada hari "patheken". Namun di antara tujuh hari yang ada, dalam kacamata Islam hari yang paling baik adalah Jumat. Jumat adalah penghulu semua hari.

Watak Weton

Jika dicermati secara harfiah berdasarkan kebiasaan penduduk lokal secara turun-temurun hingga tahun 1980-an, dengan catatan tak ada yang "ninggal rai", dari keempat cakades tersebut ada tiga yang wetonnya hari Kamis, yakni Sudiharto alias Bangkok, Suminto alias Minto, dan Sutopo alias Utopo. Sedangkan Tardiyan alias Tardi wetonnya hari Rabu.

Bila dirunut ke belakang setelah Kades Wahmadi (alm) yang berweton Sabtu, ada dua kades berweton Kamis yang pernah memimpin Ketapang, yakni Subiyanto dan Surah. Sedangkan dua kades berikutnya berweton Minggu atau Ahad, yakni Kurnadi dan Kuswadi. Ini dengan catatan tidak ada yang "ninggal rai".

Weton Kamis dalam hal kepemimpinan tampaknya membawa hoki atau keberuntungan. Indonesia saja setidaknya pernah dipimpin oleh tiga presiden yang berweton Kamis, yakni Soekarno alias Bung Karno, Soeharto alias Pak Harto, dan BJ Habibie.

Lalu bagaimana watak atau karakter para cakades berdasarkan weton masing-masing? Bagaimana peluang Bangkok, Minto dan Utopo yang sama-sama berweton Kamis? Bagaimana peta persaingan Bangkok dan Utopo yang sama-sama berweton Kamis dan sama-sama tinggal di kulon kali?

Kita tunggu edisi berikutnya:


Penulis : Karyudi Sutajah Putra

0 Post a Comment