BERITA SEPUTAR PEMALANG

Saturday, December 26, 2020

Ketapang Berebut Pulung, Siapa Untung? (12)

Foto TPS 3 Ketapang - Foto Facebook

SeputarPemalang.Com - Pertarungan untuk memperebutkan "pulung" dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, akan mencapai klimaksnya pada Minggu, 27 Desember 2020 saat pemungutan suara digelar. Tapi klimaks atau puncak sesungguhnya adalah dini hari esok, ketika para kandidat mengeluarkan jurus pamungkas: Serangan Fajar!

Hampir semua kandidat diduga melakukan serangan fajar. Makanya sempat terjadi riak-riak persoalan di permukaan, Jumat (25/12/2020). Mudah-mudahan riak-riak itu dapat diselesaikan dengan baik sebelum pemungutan suara dilakukan.

Menang Tanpa Ngasorake

Lazimnya, seperti pada pilkades-pilkades sebelumnya, di malam H para kandidat bertirakat, "wungon" atau "lek-lekan" dengan mengheningkan cipta atau berzikir di dalam kamar, atau di tempat terbuka di mana mereka bisa menatap langsung bintang-bintang di langit dan menyaksikan turunnya pulung. Pulung diyakini akan turun di tempat calon kepala desa yang esoknya akan terpilih.

Namun, melihat fenomena serangan fajar, seperti kata sahabat karibku Miftah Kuncoro, pulung itu telah menjelma menjadi sekopor uang. Makin banyak isi kopornya untuk serangan fajar, maka seorang kandidat akan lebih berpeluang memenangkan pencoblosan atau pemungutan suara. Dengan kata lain, pulung itu dapat "dibeli".

Maka siapa pun nanti yang terpilih menjadi kades, atau lurah dalam bahasa lokal Ketapang, yang pertama kali muncul dalam benak mereka adalah telah habis modal berapa?

Berikutnya mereka akan disibukkan dengan upaya-upaya mengembalikan modal, dan kalau modal awal sudah kembali, mereka akan berpikir lagi untuk mencari modal baru untuk pencalonan dalam pilkades berikutnya.

Dengan demikian, sudah kurang relevan lagi berdiskusi soal pulung, karena sekali lagi pulung itu telah menjelma menjadi sekopor uang.

Yang lebih relevan adalah berdiskusi soal apakah kandidat yang terpilih menjadi kepala desa nanti akan melaksanakan visi, misi dan program-programnya atau tidak. Apakah dia akan menunaikan janji-janjinya atau tidak.

Benar kata sahabat Dwijo Surono: silakan para kandidat "upload" atau unggah visi, misi, program kerja dan janji masing-masing di media sosial, sehingga masyarakat bisa menagihnya kelak berdasarkan jejak digital mereka itu.

Tapi bagi warga masyarakat yang pragmatis, yang mau menerima serangan fajar dengan sukarela atau setengah terpaksa atau bahkan ada yang meminta, Anda tak berhak menagihnya. Bahkan diyakini Anda tak akan menagihnya karena sudah cenderung apatis.

Pilkades Desa Ketapang Tahun 2020 diikuti oleh 4 cakades, yakni Suminto alias Minto (1), Tardiyan alias Tardi alias Sinangjono Prio Hutomo (2), Sutopo alias Utopo alias Saut Ld (3) dan Sudiharto alias Yanto alias Bangkok (4).

Melihat marak dan masifnya fenomena dugaan "money politics" atau pilitik uang, tampaknya Pilkades Desa Ketapang akan menghasilkan apa yang oleh pepatah disebut: menang jadi arang, kalah jadi abu.

Dari sisi modal, siapa pun yang menang nanti akan babak-belur. Begitu pun yang kalah. Menang tidak "happy" (bahagia), apalagi yang kalah, mungkin akan menderita.

Sebab itu, yang sangat relevan dipertanyakan saat ini adalah apakah para kandidat sudah siap menang dan siap kalah? Siap menang lebih mudah menata mental, tapi siap kalah akan relatif susah.

Namun, setiap kandidat harus siap menang sekaligus siap kalah. Menang tidak "umuk" (jemawa, sombong, angkuh), kalah tidak "ngamuk" (mengamuk). Dalam sebuah pertandingan, menang atau kalah itu soal biasa. Dalam perlombaan, tak semua bisa menjadi juara. Hanya seorang yang akan menjadi juara.

Pertanyaannya, apakah kemenangan itu diraih dengan sportif dan "fair play" atau sebaliknya? Ibarat pertandingan sepak bola, setiap kesebelasan pasti berusaha untuk menang. Caranya pun bermacam-macam: ada yang main cantik, ada yang main keras, kasar, bahkan curang.

Ada yang "hands ball", "offside", bahkan main "sliding" dan "tackling" demi kemenangan. Bila ketahuan wasit, tentu akan dipeluit, dikartu kuning atau bahkan kartu merah dan harus keluar dari lapangan.

Untuk itu, pihak Panitia dan Pengawas Pilkades harus jeli, cermat, jujur, adil, transparan dan independen. Siapa yang melakukan pelanggaran harus diberi sanksi atau hukuman. Sebaliknya, pihak yang dirugikan akan mendapat ganjaran semacam tendangan bebas atau bahkan penalti berupa simpati dari masyarakat. Jadi, ada "reward" (penghargaan) dan "punishment" (hukuman).

Sebelum pemungutan suara digelar, hendaknya semua riak persoalan yang sempat muncul ke permukaan diselesaikan sebaik-baiknya dengan "win-win solution" (solusi yang dapat diterima semua pihak sehingga semua merasa menang), sehingga pasca-pencoblosan hingga pelantikan kades terpilih tak akan ada gugatan.

Ada pesan moral yang patut diperhatikan kandidat yang nanti beruntung mendapatkan pulung dan terpilih, yakni "menang tanpa ngasorake" (menang tanpa merendahkan martabat lawan). Sebab itu, bagi pemenang sebaiknya tidak mengadakan perayaan atau pesta pora berlebihan. Apalagi saat ini masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Mewujudkan dan melaksanakan visi, misi, program kerja dan janji-janji Anda adalah suatu keniscayaan. Jika tidak, jangan harap Anda akan terpilih kembali pada pilkades yang akan datang. Kecuali dengan politik uang.

Sebaliknya, bagi kandidat yang belum beruntung mendapatkan pulung atau kalah suara, Anda masih punya kesempatan pada pilkades yang akan datang. Anda harus berusaha lebih baik lagi. Sikap ikhlas dan legawa jangan sampai ditinggalkan dan ditanggalkan.

Manusia boleh berencana, Tuhanlah yang menentukan. Kalah atau menang, tak lepas dari keberuntungan, dan itu urusan Tuhan.

Jakarta, 26 Desember 2020.

Karyudi Sutajah Putra, wartawan, penulis, konsultan.


0 Post a Comment