Latest News
Sunday, August 2, 2015

Quo Vadis Muktamar NU ke -33


SeputarPemalang.Com NU adalah akronim dari Nahdlatul Ulama yang artinya Kebangkitan Ulama. NU adalah sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 oleh KH.Hasyim Asy’ari dan bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

NU adalah salah satu organisasi islam yang menganut paham Ahlussunah waljama'ah. Dimana hal ini merupakan sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber hukum Islam bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik.

Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi/ Tauhid/ketuhanan. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi'i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hambali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. 

Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Pembukaan Muktamar

Bahwa pembukaan Muktamar  NU ke-33 sudah dilaksanakaan tadi malam. Berbagai rasa senang , bangga dan damai dirasakan oleh para muktamirin. Muktamar  NU ke-33  dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo.

Presiden mengapresiasi tema besar Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU), yakni Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia. Presiden meminta tema besar itu terus diawasi sebagai rujukan dunia. "Ini harus menjadi contoh, diawasi sebagai role model (pedoman) Islam rahmatan lil alamin (bermanfaat bagi alam semesta),” kata Presiden dalam pidatonya saat membuka Muktamar NU di Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu malam, 1 Agustus 2015.

Menurut Presiden, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang dikenal moderat dan toleran. Islam moderat dan toleran yang berkembang di Indonesia lantaran Indonesia memiliki NU. Karena itu, saya sangat berterima kasih kepada Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU yang mampu menanamkan Islam rahmatan lil alamin sampai sekarang.

Menurut Presiden Jokowi bahwa kontribusi NU terhadap Indonesia tidak diragukan sejak jaman perjuangan hingga mempertahankan kemerdekaan. NU ikut membidani lahirnya negara kesatuan Indonesia. Sejak 1926, kiai-kiai NU menjadi garda depan penjaga Pancasila dan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Harapan Sesepuh NU

Tahun ini muktamar NU ke – 33 terasa special karena seakan akan balik kerumah yaitu Jombang. Dimana Jombang ini adalah kabupaten tempat lahirnya pendiri NU yaitu  K.H.HASYIM ASY'ARI.

Menurut KH. Maimun Zubair Musytasyar PBNU yang juga  Tim Ahwa sekaligus Tokoh sepuh Nahdlatul Ulama mengisyaratkan agar NU kembali dipimpin oleh keturunan langsung pendiri NU. hal tersebut pernah disampaikan langsung oleh KH. Maimun Zubair kepada Gus Solah.

“Kembalikan NU ke Timur, agar NU tak hilang,” kata Mbah Maimun.

Apa maksud isyarat kiai kharismatik ini? Ternyata yang dimaksud Mbah Maimun agar NU dikembalikan ke Pesantren Tebuireng. Artinya, Mbah Maimun mendukung Gus Solah sebagai ketua umum PBNU.

Ada beberapa alasan Mbah Maimun mendukung Gus Solah, antara lain, PBNU kini kurang bisa meneruskan ide Hadratussyaikh KH.Hasyim Asy’ari. Selain itu, kata Mbah Maimun, PBNU kini sulit diarahkan karena ada orang-orang seperti Ulil Abshar Abdalla yang mengilhami Jaringan Islam Liberal dan Islam Nusantara.

Hal demikian ini yang secara tidak langsung memecah NU secara internal. menurut Kyai sepuh tersebut, Inilah tantangannya untuk tetap menjadikan NU sejalan dengan gagasan pendirinya Hadratussyaikh KH.Hasyim Asy’ari. 

Kemantapan NU berjalan di manhaj akan semakin kokoh bila dipimpin oleh sosok yang tepat seperti KH Salahudin Wahid sebagai generasi garis langsung dari pendiri NU.

Calon Ketum PBNU

Muktamar NU ke – 33 merupakan momentum stategis sehingga pantas banyak calon yang bermunculan. Sampai saat  ini ada 4 kandidat yang sudah maju mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU.

Mereka adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng-Jombang, KH Salahudin Wahid. Ketua umum incumbent KH Said Aqil Siradj, Dewan Pakar ASWAJA NU Center KH.Muhammad Idrus Ramli, Wakil Ketua PBNU yang juga Mantan Wakil Kepala BIN Asad Said Ali, dan Muhammad Adnan mantan Ketua PWNU Jawa Tengah. 

Berikut profil singkat Ketum PBNU:


1. DR (H.C.) Ir. KH Salahuddin Wahid


KH Salahuddin Wahid atau biasa dipanggil Gus Solah lahir di Jombang, 11 September 1942. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang ini adalah seorang aktivis, ulama, politisi, dan tokoh Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia.

Beliau merupakan putra dari pasangan KH Wahid Hasyim (ayah) dengan Sholehah (ibu), dan adik kandung dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kakeknya adalah seorang ulama besar, Maha Guru para kiai Nusantara, sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Selama karir politiknya Gus Solah pernah menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada masa awal reformasi 1998. Mantan Ketua Umum PBNU periode 1999-2004 ini juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komnas HAM.

Bersama kandidat presiden Wiranto, ia mencalonkan diri sebagai kandidat wakil presiden pada pemilu presiden 2004. Langkahnya terhenti pada babak pertama, karena menempati urutan ketiga.Setelah malang melintang dalam dunia politik, kini Gus Sholah menghabiskan waktunya untuk mengurus Ponpes Tebuireng.

2. Prof. Said Aqil Siradj, M.A.

Said Aqil Siradj lahir di Cirebon, Jawa Barat, Indonesia, pada 3 Juli 1953. Saat ini menjabat sebagai Ketua Umum (Tanfidziyah) Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) periode 2010–2015.Said Aqil Siroj terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) periode 2010-2015 dalam Muktamar ke-32 Nahdlatul ‘Ulama (NU) di Asrama Haji Sudiang,Makassar, Sulawesi Selatan Said unggul dengan perolehan 294 suara dari rivalnya Slamet Effendi Yusuf yang mendapat 201 suara.

Said Aqil juga adalah seorang akademisi yang mendapat gelar sarjana hingga doktor di Arab Saudi. Sekembalinya ke Tanah Air, KH Said ‘Aqil Siradj langsung mengajar di sejumlah perguruan tinggi dan pesantren.Beliau juga sempat duduk di bangku MPR RI. 

Saat remaja beliau pernah terlibat aktif dalam organisasi ke-NU-an. Dia sempat menjabat Sekertaris PMII Rayon Krapyak Yogyakarta (1972-1974) hingga akhirnya, berbekal pengalaman mengantarkannya menjadi Ketua Umum PBNU 2010-2015.

3. DR. As’ad Said Ali

As’ad Said Ali lahir di Kudus, Jawa Tengah, pada 19 Desember 1949. Alumnus Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Jogjakarta dan Alumni Hubungan Internasional UGM ini masuk ke BAKIN (saat ini BIN/ Badan Intelejen Negara) sejak tahun 1982-1999. Sejak 2001, beliau menjabat sebagai Wakil Kepala BIN selama 9 tahun era Presiden Abdurahman Wahid, Presiden Megawati, dan Presiden SBY. 

Beliau sempat bertugas lama di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordan, Syuriah, Lebanon, Eropa dan Amerika serikat.Jejak karir As’ad Said Ali Aktif di BANOM NU seperti IPNU, PMII dan GP Ansor. Asad diminta oleh para Rais Aam, serta ulama sepuh NU mendampingi Said Agil Siraj sebagai Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015.

Mendapat Gelar Doktor Horonis causa dari Fakultas Hukum UNDIP Semarang, dan sekarang diberi kewenangan sebagai Penanggung jawab kaderisasi PBNU, serta mengepalai berbagai program perdamaian dunia seperti Afganistan, Cyprus dan lain-lain.

5. KH. Muhammad Adnan

Muhammad Adnan lahir di Semarang pada 16 Spetember 1960. Beliau adalah mantan Ketua PWNU Jawa Tengah yang kini menjabat sebagai Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah.

KH Muhammad Adnan bisa dibilang merupakan figur yang kurang terdengar bila dibandingkan dengan calon ketua umum yang lain. Tetapi kesederhanaannya dan pengalamannya dalam organisasi NU sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah ini membuatnya didukung oleh sejumlah sesepuh NU seperti KH Dzikron Abdillah dan KH Achmad. 

Tidak hanya itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun mendukung Adnan untuk menjadi Ketua Umum PBNU mendatang.Kini sehari-hari, KH. Muhammad Adnan menjadi dosen di Universitas Diponegoro dan juga kandidat Doktor di universitas yang sama.

Point Penting Muktamar NU


Muktamar NU tidak hanya sekedar ceremonial dan saling bertegur sapa serta bertemunya para kader dan simpatisan NU dari berbagai pelosok nusantara yang tumpah ruah di arena tempat berlangsungnya muktamar.

Akan tetapi dari pada itu adalah bagaimana muktamar ini nantinya bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi warga NU, bangsa dan negara. Ada beberapa stessing point yang perlu di underline pada muktamar ke – 33 ini yaitu :

1.Bagaimana Muktamar NU ke – 33 ini menghasilkan Ketum Rais Aam dan Ketum Tanfidziyah 2015-2010 yang mumpuni di berbagai persoalan.Sebab tantangan zaman kedepan makin komplek.Meskipun semua kandidat adalah kader NU terbaik semua saat ini.Namun bagaimana memilih yang paling terbaik.

2.Bagaimana Ketum PBNU yang baru nanti bisa membawa kelembagaan NU dan banom-banomnya sampai tingkat ranting agar lebih sejahtera dalam artian bagaimana biar di tingkatan NU dan banomnya semua kegiatan di back up oleh pusat atau setiap tingkatan setiap tahun dapat anggaran sehingga akan lebih hidup lagi.

3.Bagaimana PBNU ke depan bisa menjadi pionir sebagai lembaga sosial keagaan global yang patut untuk di jadikan rujukan dunia.Sehingga studi islam tidaklah mengarah ke timur tengah terus seperti saat ini akan tetapi saatnya beralih ke Indonesia.

4.Bagaimana PBNU kedepan bisa memberi arahan agar kader di bawahnya tidak elitis tapi membaur di tengah-tengah masyarakat.Dalam artian pengurus-pengurus NU mampu menyampaiakan di masyarakat bahwa semua boleh ikut NU.

5.Bagaimana PBNU kedepan menjadi kokoh,solid,dan mampu beradaptasi dengan pemerintah dalam artian bisa mewarnai kebijakan pemerintah khususnya kebijakan-kebijakan stategis untuk umat. 

Demikian, begitu pentingnya NU bagi umat, bangsa dan negara. Semua masyarakat di Indonesia berdoa semoga proses muktamar yang sedang berlangsung  bisa sesuai dengan cita-cita luhur rais akbar KH.Hasyim Asy’ari. Mudah-mudahan dengan berlangsungnya Muktamar  NU Ke - 33 akan menjadikan warga NU kedepan lebih sejahtera, berkah dan damai. Amiin


Ust.Hadi Mulyanto,M.Pd.I adalah Kader Muda NU Tinggal di Jatibarang Brebes.


KOMENTAR ANDA

  • Blogger Comments
  • Facebook Comments
Item Reviewed: Quo Vadis Muktamar NU ke -33 Rating: 5 Reviewed By: Dhani Habib AlHuda